Featured Posts

Bismillahirohmanirrohim

Sabtu, 22 Oktober 2011

CARA PEMERIAN MINERAL


 1. Warna
            Bila suatu permukaan mineral dikenai suatu cahaya, maka cahaya yang mengenai permukaan mineral tersebut sebagian akan diserap ( absorbsi ) dan sebagian akan dipantulkan (refleksi). Warna penting untuk membedakan warna mineral akibat pengotoran dan warna asli (tetap) yang berasal dari elemen utama pada mineral tersebut.
            Warna mineral yang tetap dan tertentu karena elemen – elemen utama pada mineral tersebut disebut dengan nama Idiochromatic. Misalnya :
§  Sulfur berwarna kuning.
§  Magnetite berwana hitam.
§  Pyrite berwarna kuning loyang.
Warna akibat adanya campuran atau pengotor dengan unsur lain, sehingga memberikan warna yang berubah – ubah tergantung pada pengotornya diesbut dengan nama Allochromatic. Misalnya :
§  Halite warnanya dapat berubah – ubah, seperti : abu – abu, biru bervariasi, kuning, coklat gelap, merah muda.
§  Kuarsa tidak berwarna, tetapi karena ada campuran / pengotoran warnanya berubah – ubah menjadi :violet, merah muda, coklat kehitaman.

Kehadiran kelompok ion asing yang dapat memberikan warna tertentu pada mineral disebut dengan nama Chromophores. Misalnya :
§  Ion – ion Cu yang terkena proses hidrasi merupakan chromophores dalam mineral Cu sekunder, maka akan memberikan warna hijau dan biru.
Faktor – faktor yang dapat mempengaruh warna adalah :
a. Komposisi kimia
            Misal : Chlorite  : hijau
                       Albite     : putih
                        Melanite : hitam
 b. Sruktur kristal dan ikatan atom
            Misal : Intan; tidak berwarna; isometric
                  Graphite; hitam; hexagonal
c. Pengotoran dari mineral
            Misal : Silikat     : tidak berwarna                
                        Agate       : putih ( seperti asap )
                        Jasper      : merah
                        Calsedon : coklat kehitaman       
 

2. Perawakan Kristal
Apabila kristal dalam pertumbuhannya tidak mengalami gangguan, maka mineral akan mempunyai bentuk kristal yang sempurna. Tetapi bentuk kristal yang sempurna ini jarang ditemukan, karena di alam gangguan – gangguan itu selalu ada. Mineral yang dijumpai di alam sering bentuknya tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga sulit untuk mengelompokkan mineral itu dalam sistem kristalografi. Sebagai gantinya, dipakai istilah perawakan kristal, bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang – bidang tersebut. Kita perlu mengenal beberapa perawakan kristal yang terdapat pada jenis mineral tertentu, sehingga perawakan kristal dapat dipakai untuk penentuan jenis mineral, walau pun perawakan kristal bukan merupakan ciri tetap mineral.
Menurut Richard Pearl ( 1975 ), perawakan kristal dibagi memjadi :
1.Elongated Habit  ( Meniang / Berserabut )
  1. Meniang ( Columnar ); bentuk kristal prismatik yang menyerupai bentuk tiang.
Misal : Tourmaline, Pyrolusite, Wollastonite.
  1. Menyerat ( Fibrous ); bentuk kristal yang menyerupai serat – serat.
Misal : Asbestos, Tremolit, Gypsum, Silimanite.
  1. Menjarum ( Acicular ); bentuk kristal yang menyerupai jarum – jarum.
Misal : Natrolite, Glaucophane.
  1. Menjaring ( Reticulate ); bentuk kristal kecil dan panjang menyerupai jaring.
Misal : Rulite, Cerussite.
  1. Membenang ( Filliform ); bentuk kristal kecil – kecil menyerupai benang.
Misal : Silver.
  1. Merabut ( Capillery ); bentuk kristal kecil – kecil menyerupai rambut.
Misal : Cuprite, Bysolite.
  1. Mondok ( Stout,Stubby, Equant ); bentuk kristal pendek dan gemuk, sering terdapat pada kristal – kristal dengan sumbu c lebih pendek dari sumbu yang lainnya.
Misal : Zircon.
  1. Membintang ( Stellated ); bentuk kristal yang tersusun menyerupai bintang.
Misal : Pirofilit.
  1. Menjari ( Radiated ); bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuk jari – jari.
Misal : Markasit.
2. Flattenad Habit ( Lembaran Tipis )
  1. Membilah ( Bladed ); bentuk kristal yang panjang dan tipis menyerupai bilah kayu dengan perbandingan antara lebar dan tebal sangat jauh.
Misal : Kyanite, Kalaverit.
  1. Memapan ( Tabular ); bentuk kristal pipih menyerupai bentuk papan,dimana perbandingan lebar dan tebal tidak terlalu jauh.
Misal : Barite, Hypersthene.
  1. Membata ( Blocky ); bentuk kristal yang tebal menyerupai bentuk bata, dengan perbandingan lebar dan tebal hampir sama.
Misal : Calcite, Microcline.
  1. Mendaun ( Foliated ); bentuk kristal pipih melapis (lamellar) dengan perlapisan yang mudah dikupas / dipisahkan.
Misal : Mika, Chlorite.
  1. Memencar ( Divergent ); bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuk kipas yang terbuka.
Misal : Aragonite, Millerite.
  1. Membulu ( Plumose ); bentuk kristal yang tersusun membentuk tumpukan bulu.
Misal : Mika.
3. Rounded Habit ( Membutir )
  1. Mendada ( Mamillary ); bentuk kristal bulat – bulat menyerupai buah dada ( breast like ).
Misal : Opal, Malachite, Hemimorphite.
  1. Membulat ( Colloform ); bentuk kristal yang menunjukkan permukaan yang bulat – bulat.
Misal : Bismuth, Smalite, Cobaltite, Glauconite, Geothite, Franklinite.
  1. Membulat jari ( Colloform Radial ); bentuk kristal yang membulat dengan struktur dalam memencar menyerupai bentuk jari.
Misal : Pyrolorhyte.
  1. Membutir ( Granular ); kelompok kristal kecil membentuk butiran.
Misal : Olivine, Anhydrite,Chromite, Sodalite,Alunite, Niceolite, Cinabar, Cryolite.
  1. Memisolit ( Pisolitic ); kelompok kristal lonjong sebesar kerikil, seperti kacang tanah.
Misal : Pisolitic, Gibbsite.
  1. Stalaktit ( Stalactic ); bentuk kristal membulat dengan litologi batuan gamping.
Misal : Geothite.
  1. Mengginjal ( Reniform ); bentuk kristal yang menyerupai bentuk ginjal.
Misal : Hematite.

 
3. Kilap
            Kilap ditimbulkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan sebuah mineral, yang erat hubungannya dengan sifat pemantulan ( refleksi ) dan pembiasan cahaya (refraksi). Intensitas kilap tergantung dari indeks bias mineral, yang apabila makin besar indeks bias mineral, makin besar pula jumlah cahaya yang dipantulkan. Nilai ekonomik mineral kadang – kadang ditentukan dari kilapnya.
Macam – macam  kilap :
1. Kilap Logam ( Metallic Luster )
            Mineral – mineral opaq yang mempunyai indeks bias lebih atau sama dengan 3, mempunyai kilap logam. Misal : Galena, Pyrite, Native metal, Sulphide.
2. Kilap Sub – Logam ( Sub – Metallic Luster )
            Kilap ini terdapat pada mineral yang mempunyai indeks bias antara 2,6 sampai 3. Misal : Cuprite ( n : 2,85 ), Hematite ( n : 3 ), Cinnabar ( n : 2,9 ).
3. Kilap Bukan Logam ( Non Metallic Luster )
            Kilap ini terdapat pada mineral – mineral yang berwarna terang dan dapat membiaskan, indeks biasnya kurang dari 2,5. Gores dari mineral ini biasanya tidak berwarna atau berwarna muda. Macam – macam kilap bukan logam :
  1. Kilap Kaca ( Vitreous Luster )
Kilap yang ditimbulkan oleh permukaan gelas atau kaca. Misal : Quartz, Garnet, Carbonates, Fluorite, Corundum, Silicates.
  1. Kilap Intan ( Adamantite Luster )
Kilap yang sangat cemerlang yang ditimbulkan oleh intan atau permata. Misal : Diamond, Sulfur, Zircon, Rutile, Sphalerite, Cassiterite.
  1. Kilap Lemak ( Greasy Luster )
Kilap dengan permukaan yang licin seperti berminyak atau terkena lemak ( akibat proses oksidasi ). Misal : Nepheline yang sudah teralterasi, Halite yang sudah terkena udara.
  1. Kilap Lilin ( Waxy luster )
Kilap seperti lilin khas. Misal : Serphentine, Cerargyrite.



  1. Kilap Sutera ( Silky Luster )
Kilap seperti yang terdapat pada mineral yang paralel atau berserabut ( paralel fibrous structure ). Misal : Asbestos, Selenite, Serpentinite, Hematite.
  1. Kilap Mutiara ( Pearly luster )
Kilap yang ditimbulkan oleh mineral trnasparant yang berbentuk lembaran dan menyerupai mutiara. Misal : Talc, Gypsum, Mika.
  1. Kilap Tanah ( Earthy Luster )
Kilap yang ditunjukkan oleh mineral yang porous dan sinar yang masuk tidak dapat dipantulkan kembali. Misal : Kaolin, Chalk, Diatomea, Pyrolusite, Variasi Ochres, Montmorilonite.

4. Kekerasan
            Kekerasan mineral pada umumnya diartikan sebagai daya tahan mineral terhadap goresan ( scratching ). Penentuan kekerasan relatif mineral adalah dengan cara menggoreskan permukaan mineral yang rata pada mineral standart dari “Skala Mohs” yang telah diketahui kekerasannya. “Skala Mohs” tersebut adalah :
1.      Talc                 Mg3Si4O10(OH)2
  1. Gypsum           CaSO22H2O
  2. Calcite            CaCO3
  3. Fluorite            CaF2
  4. Apatite           Ca5(PO4)3 F
  5. Orthoclas         K(AlSi3O8) 
  6.  Quartz             SiO2
  1. Topaz              Al2SiO4(FOH)2
  2. Corumdum      AL2O3
  3. Diamond        C
Misalnya suatu mineral digores denga Calcite ( H = 3 ), ternyata mineral itu tidak tergores, tetapi dapat digores dengan Fluorite ( H=4 ). Maka mineral itu mempunyai kekerasan antara 3 dan 4.



Penentuan kekerasan relatif mineral dapat pula dengan mempergunakan alat – alat sederhana yang sering terdapat di sekitar kita.
§  Misalnya : - Kuku jari manusia     H = 2,5
§  - Kawat tembaga               H = 3
§  - Pecahan kaca                  H = 4,5
§  - Pisau baja                        H = 5,5
§  - Kikir baja                        H = 6,5
§  - Lempeng baja                 H = 7
            Bilamana suatu mineral tidak tergores oleh kuku jari manusia, tetapi tergores oleh kawat tembaga, maka mineral tersebut mempunyai kekerasan antara 2,5 dan 3.

5. Gores
            Gores adalah warna asli dari mineral apabila mineral tersebut ditumbuk sampai halus. Gores ini dapat lebih dipertanggungjawabkan karena stabil dan penting untuk membedakan dua mineral yang warnanya sama ( tetapi goresnya berbeda ). Gores ini diperoleh dengan cara menggoreskan mineral pada permukaan keping porselin, tetapi bila mineral itu mempunyai kekerasan lebih dari 6, maka gores dapat ditentukan dengan cara menumbuk sampai halus menjadi  berupa tepung. Dari cara tersebut maka dapat diketahui klasifikasinya antara lain :
1.      Mineral yang berwarna terang biasanya mempunyai gores berwarna putih.
Misal :   Quartz     = putih / tak berwarna.
                            Gypsum  = putih / tak berwarna.
                           Calcite      = tak berwarna.
2.      Mineral bukan logam ( non metalic mineral ) dan berwarna gelap akan memberikan gores yang lebih terang daripada warna mineral itu sendiri.
Misal :   Leucite ( warna abu – abu )            = goresnya putih.
              Dolomite ( warna kuning – pink  ) = goresnya putih.
3.      Mineral yang mempunyai kilap metalic kadang – kadang mempunyai gores yang lebih gelap daripada warna mineral itu sendiri.



Misal :   Pyrite ( warna kuning loyang )                     = gores hitam.
             Hematite ( warna abu –abu kehitaman )     = gores merah.
             Copper ( warna merah tembaga )                = gores hitam.
4.      Pada beberapa mineral, warna dan gores sering menunujukkan warna yang sama.
Misal :   Cinnabar   = warna dan gores merah.
              Magnetite  = warna dan gores hitam.
              Azurite     = warna dan gores biru.

6. Belahan
            Apabila suatu mineral mendapat tekanan yang melampaui batas elstisitas dan plastisitasnya, maka pada akhirnya mineral akan pecah. Belahan mineral akan selalu sejajar dengan bidang permukaan kristal yang rata, karena belahan merupakan gambaran dari struktur dalam kristal. Belahan tersebut akan menghasilkan bagian – bagian kristal yang kecil, yang setiap bagian kristal dibatasi oleh bidang yang rata. Berdasarkan dari bagus / tidaknya permukaan bidang belahannya, belahan dibedakan menjadi :
  1. Sempurna ( Perfect )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya itu.
Misal : Calcite, Muscovite, Galena, Halite.
  1. Baik ( Good )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata, tetapi dapat juga terbelah memotong atau tidak melalui bidang belahannya.
Misal : Feldspar, Augite, Rhodonite, Hyperstene, Diopsite.
  1. Jelas ( Distinct )
Yaitu apabila bidang belahan mineral dapat terlihat jelas, tetapi mineral tersebut sukar membelah melalui bidang belahannya, tapi bila terbelah akan mempunyai permukaan yang tidak rata.


Misal : Scapolite, Hornblende, Feldspar, Staurolite, Anglesite, Scheelite.
  1. Tidak Jelas ( Indistinct )
Yaitu apabila arah belahan mineral masih terlihat, tetapi kemumgkinan umtuk membentuk belahan dan pecahan sama besar.
Misal : Beryl, Corundum, Platina, Gold, Magnetite.
  1. Tidak Sempurna ( Imperfect )
Yaitu apabila mineral sudah tidak terlihat arah belahannya dan mineral akan pecah dengan permukaan yang tidak rata.
Misal : Apatite, Cassiterite, Native sulphur.

7. Pecahan
            Apabila suatu mineral memdapat tekanan yang melampaui batas elastisitasnya dan plastisitasnya, maka mineral tersebut akan pecah. Pecahan dapat dibagi menjadi :
  1. Choncoidal
Yaitu pecahan mineral yang menyerupai pecahan botol atau kulit bawang.
Misal : Quartz, Obsidian, Rutile, Zincite, Anglesite, Cerrusite.
  1. Hacly
Yaitu pecahan muneral seperti pecahan runcing – runcing tajam, serta kasar dan tidak beraturan atau seperti bergerigi.
Misal : Copper, Platinum, Silver, Gold.
  1. Even
Yaitu pecahan mineral dengan permukaan bidang pecahnya kecil – kecil dengan ujung pecahan mendekati bidang datar.
Misal : Muscovite, Talc, Biotite, Mineral lempung.
  1. Uneven
Yaitu pecahan mineral yang menunjukkan permukaan bidang pecahnya kasar dan tidak teratur.
Misal : Calcite, Chromite, Orthoclase, Rutile, Rhodonite, Marcasite.



  1. Splintery
Yaitu pecahan mineral yang hancur menjadi kecil – kecil dan tajam menyerupai                     benang atau berserabut.
Misal : Fluorite, Anhydrite, Serpentine, Antigorite.
  1. Earthy
Yaitu pecahan mineral yang hancur menjadi seperti tanah.
Misal : Kaolin, Biotite, Muscovite, Talc.


8. Daya Tahan Terhadap Pukulan
            Daya tahan terhadap pukulan adalah suatu daya tahan mineral terhadap pemecahan, pembengkokan, penghancuran, dan pemotongan. Macam – macam daya tahan terhadap pukulan adalah :
  1. Brittle
Yaitu apabila mineral mudah hancur menjadi tepung halus.
Misal : Calcite, Quartz, Hematite, Marcasite.
  1. Sectile
Yaitu apabila mineral mudah terpotong pisau dengan tidak berkurang menjadi tepung.
Misal : Gypsum, Cerargyrite.
  1. Malleable
Yaitu apabila mineral ditempa dengan palu akan menjadi pipih.
Misal : Gold, Copper, Silver.
  1. Ductile
Yaitu apabila mineral ditarik dapat bertambah panjang dan apabila dilepaskan, maka mineral itu akan kembali seperti semula.
Misal : Silver, Copper, Olivine, Cerargyrite
  1. Flexible
Yaitu apabila mineral dapat dilengkungkan kemana – mana dengan mudah.
Misal : Talc, Gypsum, Mica.


  1. Elastic
Yaitu apabila mineral dapat merenggang bila ditarik dan akan kembali seperti semula bila dilepaskan.
Misal : Muscovite, Hematite tipis.

9. Berat Jenis
            Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral dibandingkan berat air pada volume yang sama dengan mineral itu. Dalam rumus dapat ditulis seperti di bawah ini :
BJ =
Dalam penentuan berat jenis dipergunakan alat – alat :
  1. Piknometer.
  2. Timbangan analitk.
  3. Gelas ukur.

10. Rasa dan Bau
            Disamping dari sifat – sifat yang sudah dibahas di atas, beberapa mineral mempunyai rasa dan bau yang khas.

11. Sifat Kemagnetan
            Semua mineral mempunyai sifat magnetis, meskipun untuk menunjukkannya dibutuhkan alat khusus. Sebagian kecil dari mineral dalam keadan asli ( murni ) dapat ditarik oleh magnet baja kuat. Yang perlu dicatat pada praktikum mineral fisik ini adalah sifat dari mineral yang diselidiki, yaitu :
  1. Paramagnetit ( Magnetit )
Kelompok mineral ini mempunyai gaya tarik terhadap magnet.
  1. Diamagnetit ( Nonmagnetit )
Kelompok mineral ini mempunyai gaya tolak terhadap magnet.



12. Derajat Ketransparanan
            Sifat ketransparanan dari suaru mineral tergantung pada kemampuan mineral tersebut untuk men – transmit sinar / cahaya ( berkas sinar ). Sesuai dengan itu variasi jenis mineral dapat dibedakan atas :
1.      Opaque Mineral
Yaitu mineral yang tidak tembus cahaya meskipun dalam bentuk helaian yang amat tipis. Mineral – mineral ini permukaannya mempunyai kilauan metalik dan meninggalkan berkas hitam atau gelap.
Misal : logam – logam mulia, belerang, ferri oksida.
2.      Transparant Mineral
Yaitu mineral – mineral yang tembus pandang seperti kaca biasa.
Misal : batu – batu kristal, iceland spar.
3.      Translucent Mineral
Yaitu mineral yang tembus cahaya tetapi tidak tembus pandang seperti kaca frosted.
Misal : Calsedon, Gypsum, Opal.
4.      Non Transparant
Yaitu mineral – mineral yang tidak tembus pandang dalam bentuk pecahan – pecahan ( fragmen ), tetapi tembus cahaya pada lapisan yang tipis.
Misal : Feldspar, Silikon, Karbonat.

13. Nama Mineral dan Rumus Kimia
            Dalam menentukan nama mineral dan rumus kimia dilakukan setelah deskripsi diatas selesai. Caranya dengan mencocokkan deskripsi di atas dengan tabel determinan yang telah disediakan di laboratorium.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate